die ewige Wiederkehr des Gleichen

Sudah lama saya tidak bernarasi dan mungkin adalah narasi saya yang pertama semenjak hilang dan tenggelam bersama gambar-gambar sederhana saya. Cerita ini diangkat dari imajinasi yang sejak dua jam lalu berlalu lalang di otak saya. Maaf apabila tidak jelas, mungkin lebih baik anda tidak usah membaca narasi ini. Terima Kasih
Hembusan demi hembusan membahana di ruangan ini. Asap penuh menyesaki tiap sudut dari kamar ini. Terdapat seorang yang sedang berpikir tentang apa yang harus ia pikirkan untuk esok hari. Seseorang tersebut adalah seorang yang penuh imajinasi. Tangannya bergerak di atas kanvas dan matanya tajam menatap tiap objek yang ada di ruangan itu. Sambil mencari ujung dari imajinasinya, suaranya yang lirih mengucapkan sajak dari buku usang. Raut wajahnya yang datar dan dingin, seraya mengisyaratkan sebuah makna yang dalam tentang ide yang nanti ia goreskan. Dengan kaos putih kotor dan celana pendek, ia bersandar di sudut kamar itu. Keadaan kamar yang berantakan dan penuh debu. Kamar itu berukuran 3 x 3 m, berisikan satu meja yang ada di sebelah kanan pintu, kasur yang tergeletak di lantai dengan sprei yang lusuh, dan lemari yang tua dengan pintu yang sudah lepas. Kepalanya penuh dengan ide namun terasa berat. Tanpa diksi yang sulit dimengerti, pikirannya terus mencari sang batara surya. Hampir satu jam ia terdiam dan sesekali mengucapkan sajak, tapi masih belum dapat menumpahkan cat air di kanvas itu. Entah apa yang menghambatnya.
Seseorang ini bernama josevin, seorang pelukis amatiran yang baru saja dikeluarkan dari sekolahnya. Sekarang ia hanya seorang pengangguran. Ia adalah seorang anak tanpa keluarga, ia membiayai sekolahnya dari melukis dan menjajakkannya di pinggir pasar di dekat kota vienna. Kota vienna, kota yang penuh sejarah dan banyak terdapat gereja tua yang menghiasi sudut-sudut kota. Vienna, kota idaman bagi orang-orang pencari kebahagiaan yang sesungguhnya, mungkin itu yang kerap dibunyikan oleh para penduduk sekitar dan para wisatawan ketika berkunjung di kota itu. Vienna, kota yang menjadi saksi dimana seorang bayi ditaruh di keranjang buah di dekat tong sampah di dekat pasar rakyat di Vienna. Bayi ini adalah josevin. Ia tumbuh besar bersama dengan tukang jahit miskin di pasar itu. Ia diasuh oleh madam eury. Madam eury berusia 78 tahun saat josevin masih bayi. Madam eury memberi nama bayi itu josevin karena ia tidak sengaja membaca koran dan terdapat nama seorang pastur yang mati di altar gerejanya karena terpenggal kepalanya oleh pisau daging oleh biarawatinya. Madam eury sangat menginginkan josevin kelak bisa menjadi seorang pastur yang hebat di Vienna.
Pada usia 6 tahun, josevin dimasukkan oleh madam eury ke sekolah kepasturan yang ada di pinggir kota vienna. Tapi sayang pada usia josevin ke-11 tahun, madam eury meninggal dunia karena serangan jantung. Pukulan berat bagi seorang josevin kecil. Ia kini tidak tahu mau kemana, karena di umurnya yang masih 11 tahun, ia tidak bisa melamar pekerjaan ke pabrik atau berdagang karena di vienna melarang anak di bawah 15 tahun untuk bekerja. Josevin pun terpaksa ikut asrama di gereja tempat ia bersekolah. Di sana, ia kenal dengan sosok biarawati cantik dan baik. Biarawati itu bernama madam jenisse. Madam jeniss adalah seorang biarawati yang baru dua tahun ada di gereja votiv itu. Gereja votiv adalah salah satu gereja yang terkenal di vienna. Dengan bentuk-bentuk ornamen yang penuh warna di kaca atap gereja serta banyak terdapat patung di tamannya.
Madam jenisse sangat sayang dengan josevin karena josevin adalah anak yang cerdas dan selalu bisa menghafal bait-bait risalah dalam injil dengan cepat. Umur josevin sekarang adalah 15 tahun, yang berarti ia boleh melamar pekerjaan di kota. Pada suatu hari ia berjalan ke kota dan menemukan toko yang penuh dengan lukisan yang unik. Dari sana, josevin mulai suka terhadap seni lukis. Di saat ia sedang tidak ada kelas, ia selalu melukis di pohon dekat patung malaikat di taman gereja votiv tersebut. Ia melukis di pohon dengan pisau kecil. Dua tahun berjalan, josevin belum juga dapat diterima di pabrik atau mendapat kesempatan untuk bisa berdagang di pasar. Entah kenapa, yang jelas josevin mulai frustasi karena ia merasa terbebani akibat hidupnya yang sangat tergantung dengan gereja votiv. Lalu ia mulai berpikir untuk dapat mahir melukis dan menjual lukisannya kepada orang-orang di pasar. Ia pun mencari cara untuk mendapatkan alat-alat melukis dengan tiap pagi hari berkeliling kota dan mencari di tempat sampah pada rumah-rumah penduduk serta mencarinya di tempat sampah di pasar. Sudah seminggu ia mencari kanvas dan kuas bekas tapi ia tidak menemukannya.
Suatu ketika, ia melewati sebuah toko yang dulu menjadi pijakannya untuk bisa tertarik dengan seni lukis. Di sana ia menemukan seorang yang sedang mengangkat barang-barang yang isinya adalah kaleng-kaleng cat akan tetapi orang itu kesulitan membawanya. Kemduian josevin menghampirinya dan menawarkan bantuan. Lima kaleng cat, ia angkat dari mobil orang tersebut ke dalam toko tersebut. Setelah selesai, josevin menawarkan diri untuk bisa bekerja di toko tersebut tapi sang pemiliki menolaknya karena penampilannya yang kusut. Lalu ada seorang wanita keluar dari kamar di toko tersebut dan memberikan lima kanvas baru, kuas, dan tujuh kaleng cat berukuran kecil.
Setelah itu, sang pemilik mengusir josevin dari toko itu. Mulai dari sana, josevin menjadi mahir melukis dan kelima lukisan pertamanya terjual dengan harga yang cukup tinggi. Di hari berikutnya hingga saat ia melihat selebaran tentang dibukanya sekolah melukis di tengah kota. Ia pun melamar untuk bisa bersekolah di sana. Josevin lolos menjadi siswa di sana dan mendapat prestasi yang sangat baik pada tahun pertama dan keduanya. Tapi terdapat masalah ketika ia menginjakkan kakinya di tahun terakhirnya. Masalah itu adalah kembalinya kenangannya di saat masih bayi dan josevin kerap bingung terhadap asal muasal dirinya. Hal ini menghantuinya hampir 6 bulan. Ia pun telah melewati batas waktunya untuk menyerahkan tugas akhirnya untuk sekolahnya, lalu ia dikeluarkan dari sekolah tersebut dan mulai kembali menjadi seorang yang depresi serta pengangguran. Pada suatu ketika ia kembali ke gereja votiv dan menemukan buku kecil yang ada di laci dekat altar gereja. Lalu ia duduk di baris paling depan dalam gereja yang kebetulan sangat sunyi karena memang gereja ini sudah tidak ada yang mengurusinya lagi sejak josevin keluar. Madam jenisse meninggal saat para rombongan ordo gereja votiv pergi ke stockholm. Lalu para pastur dan biarawati lain satu demi satu pergi dan kembali menjadi masyarakat biasa karena banyak kabar yang berhembus bahwa gereja tersebut menyimpan banyak hal mistis dan para jemaatnya mulai pindah ke gereja lain di vienna. Josevin memfokuskan konsentrasinya membaca buku kecil tersebut. Di dalam buku tersebut menceritakan sebuah kisah dari biarawati bernaman helena yang mati karena di hukum oleh ordo gereja di stockholm.

Pada suatu hari di sudut kota Stockholm, ada seorang biara yang sedang menjahit bajunya di dekat taman gereja Podlaice. Ia begitu hening dan serius menjahit. Tiba-tiba datang seorang pastur yang datang untuk menyuruh biara itu pulang. Sambil berjalan di belakang pastur, biara itu masih menjahit. Memasuki lorong gereja, biara itu naik tangga ke atas untuk menuju sebuah ruangan. Sang pastur menyuruhnya untuk terlebih dahulu. Ruangan tersebut ada pada lantai paling atas, yaitu lantai 8 dari gereja tersebut. Dengan beribu tanda tanya, seorang biarawati itu naik ke lantai 8. Sesampainya di ruangan itu, ia menemukan 5 pastur dan 7 biarawati yang merupakan petinggi gereja tersebut.

Mereka terlihat dingin menatap helena, seorang biarawati yang baru saja masuk ke ruangan itu. Helena kemudian duduk di hadapan mereka. Dengan muka yang sangat sinis, pastur elbert memberikan secarik surat yang berisikan bahwa helena harus mengemban sanksi atas apa yang ia perbuat. Helena marah dan tidak terima, lalu pastur maximus menjelaskan bahwa ia telah melanggar aturan gereja tersebut. Helena didakwa oleh para petinggi gereja karena membuang anaknya di pinggir pasar dengan berbalutkan kain perca di dalam keranjang buah.

Buku raksasa adalah sebuah manuskrip yang harus dituliskan oleh helena. Ia harus menuliskan terjemahan injil di buku dengan tinggi 102 cm, lebar 70 cm dan tebal 32 cm. Di dalamnya sudah berisi 328 lembar yang harus helena isi dengan risalah-risalah injil serta beberapa catatan penting tentang gereja tersebut. Helena diberi waktu oleh para ordo gereja itu untuk menyelesaikannya dalam waktu tiga hari atau helena harus rela dipenjara di bawah gereja karena perbuatannya tersebut. Pada malam ketiga, helena hanya baru mencapai halaman ke 133. Kemudian, menjelang tengah malam, helena itu menjadi ragu apakah ia dapat menyelesaikannya sendiri. Jadi ia menjual jiwanya kepada iblis demi sebuah pertolongan.

Iblis kemudian menyelesaikan buku tersebut. Sebagai penghormatan kepada iblis yang membantunya, lalu helena itu menambahkan gambar iblis ke dalam buku tersebut. Pada halaman 290, terdapat sebuah gambar Iblis dengan tinggi sekitar 50 cm. Beberapa halaman sebelum gambar ini ditulis pada lembaran kulit yang menghitam dan dibuat dengan karakter yang gelap, yang membuatnya berbeda dengan keseluruhan isi buku tersebut. Isi dari buku ini adalah berbagai macam traktat (dari sejarah, etimologi dan fisiologi), sebuah kalender, daftar nama para biarawati di gereja Podlaice, formula-formula ajaib dan catatan-catatan lain.

Kemudian sejam setelah helena menyelesaikan bukunya tersebut, ia tiba-tiba mendapat serangan jantung. Setelah ditelaah ternyata kematiannya ada hubunganya dengan apa yang ia minum pada malam ketiganya saat menulis buku tersebut. Pastur elbert memasukkan racun ke dalam minuman helena yang bekerja setelah enam jam diminumnya. Tidak jelas alasan mengapa pastur elbert melakukan hal tersebut tapi kematian helena hanya diketahui oleh kalangan gereja saja. Bukunya menjadi salah satu koleksi terbaik pada gereja tersebut.

Hampir sejam josevin menghabiskan waktunya bersama buku kecil tersebut. Setelah itu ia menaruh kembali buku kecil tersebut di laci dan pulang ke kamarnya di pinggir kota. Ia pun memikirkan apa yang ia baca tadi di gereja. Ia mengingat bahwa ada kesesuaian antara cerita helena dengan apa yang ia alami saat masih bayi. Ia pun menduga bahwa ibunya adalah helena seorang biarawati yang ada di stockholm dan mati diracun oleh pasturnya sendiri. Tapi hal yang janggal adalah apa mungkin helena jauh-jauh pergi ke vienna dari stockholm hanya untuk membuangnya. Lantas apa dasar helena membuangn josevin di vienna.
Pertanyaan liar semakin berkecamuk di pikirannya. Josevin duduk termenung di kamarnya di depan kanvas kosong dan ditemani sepuntung cerutu bekasnya tadi malam. Josevin pun mengeluarkan kotak yang berisi cat. Di sana terdapat cat berwarna merah pekat dan jantung manusia. Jantung manusia itu ia dapat saat ia ada di taman dan memenggal seorang anak kecil berumur lima tahun dengan sebilah pisau daging. Josevin memenggal kepala anak itu di belakang semak-semak dan memotong jari anak itu untuk diambil darahnya.
Darah itu lalu ia taruh di kotak cat untuk menambah stok catnya yang sudah habis. Setelah ia memenggal kepala dan memotong jari anak itu, josevin perlahan membelah dada anak itu dengan pisau dagingnya. Ia ingin mengambil jantungnya sebagai ornamen tambahan yang akan ia buat sebagai kolase lain lukisanna. Setelah itu, josevin membungkus mayat anak itu dan membawanya ke kamarnya. Mayat anak itu digantung di dinding kamarnya bersama dengan tujuh orang lain yang ia bunuh dalam kurun enam bulan. Mayat-mayat itu ia paku seperti manekin. Ia memaku mayat-mayat itu bagian lengan dan kaki mereka.
Setelah ia membuka kotak dan mulai menggunakan kuasnya, josevin pun melukis karena memang sudah sejam ia termenung memikirkan ide apa yang harus ia lukis dan sedikit masih berpikir tentang buku kecil itu. Hampir selesai lukisannya, lalu josevin berdiri dan berjalan mendekati delapan kepala yang sudah busuk dan penuh dengan lalat itu. Josevin menatap kepala-kepala itu lalu kembali ke depan kanvas untuk menempelkan jantung anak itu di kanvasnya. Setelah itu, josevin pergi dan meninggalkan lukisan yang baru saja ia buat. Di dinding itu juga tergeletak lukisan sang iblis berwajah perempuan dengan pakaian biara dan bertuliskan stockholm 1937. Beberapa hari kemudian, diberitakan bahwa josevin mati dalam perjalanannya ke stockholm karena dibunuh oleh seorang pelukis jerman bernama bach spielgen, dengan keadaan kepala yang hilang di buang di sungai rhein dan tubuhnya habis dimakan oleh serigala hutan. Sekian.

Comments

Sindiran Untuk Matahari

Terserah matahari…

Di kala senja mulai turun dan malam siap kembali duduk di singgasananya.

Aku merasakan hal yang begitu memilukan.

Wangi hujan hanya sebuah keseharian di saat aku menemukan sebentuk ruang di lorong waktu yang sering menjadi alasan bagiku atas kesalahan yang telah berlalu.

Deras hujan seperti membantu senja mencaci dentang kebiasaanku mengacuhkan pagi.

Bermimpi di tiap pagi terlalu pagi dan malam terlalu malam.

Bermimpi di tengah kegelapan langit yang sepi.

Melihat bintang mati di tengah temaram rembulan yang sedang bercengkrama dengan awan.

Biru ketika bercermin dan menyedihkan ketika merasa bahwa aku dan ragaku kini hidup di masa yang sulit.

Menjabat jemari malam dan memeluk desiran dinginnya angin.

Mematri banyak kenangan di tiap harinya pada hamparan luas imajinasi, memangku kesedihan dan harapan di pundak derita.

Merambah dinding penantian yang kunjung terlihat puncaknya.

Merenggut setangkup asap kekalutan sebagai awan di kala mentari menjelang.

Berpikir dan berbisik lirih kepada redupnya kenyataan.

Menenun asa di kain ilusi.

Merahasiakan takdir mati atau hidup di tiap detik dan menitnya.

Balas semua keluh kesahku wahai matahari.

Kemana semuanya kini?

Pergi dan terbang ke arah utara meninggalkan jejak waktu yang begitu gelap.

Comments

Menyerang Negara

Sebuah tulisan yang saya rangkai menggunakan bantuan buku rujukan karya Sean Seehan berjudul Anarkisme. Saya mengkombinasikan sedikit pemikirannya dengan keadaan yang sedang terjadi di jalan sana. Mungkin tulisan ini adalah sebagai tanggung jawab saya sebagai seorang propagandis di masa lampau. Silahkan anda membacanya jikalau anda bersedia dan sudi untuk itu.
Sebuah judul tulisan yang begitu tendensius dan menyudutkan. Menampakan sebenarnya sang penulis berada saat ini. Sebenarnya ini hanya tulisan yang lahir dari mendengarkan sebuah lagu dan membaca sedikit judul pada banyak media massa di negara ini. Menyerang negara itu dapat dilakukan langsung ataupun tidak langsung. Tapi yang saya sedikit jelaskan di sini adalah menyerang negara secara langsung. Terlepas dari pandangan pro saya terhadap isu kenaikan BBM, saya hanya ingin mengajak saya dan para pembaca tumblr saya yang mungkin setia melihat dan membaca segala tulisan dari saya yang apa adanya ini.
Kalimat ‘menyerang negara’ adalah kalimat yang familiar dengan kaum anarkis dengan pelbagai macam aksi pemberontakan dan pembangkangan yang tak terhitung banyaknya. Baik secara simbolis, konspirasional, terbuka depan publik, dengan kekerasan, dengan damai, dengan diam-diam, secara artistik, maupun legal. Menyerang negara adalah arah yang jelas dari para anarkis. Tapi sebelum jauh membicarakan kaum anarkis, alangkah baiknya kita mengenal siapa kaum anarkis sebenarnya.
Kaum anarkis secara harfiah adalah kaum yang menganut paham anarkisme. Adapaun anarkisme sebagai konsep dalam ilmu sosial maupun filsafat kerap disalahartikan sebagai suatu prinsip yang berhubungan dengan hal-hal yang bernuansa destruktif, chaotic, dan ketidakberaturan atau disorder. Bahkan kerap anarkisme diposisikan berseberangan dengan demokrasi. Hal ini memang tidak lah seluruhnya benar, karena sesungguhnya anarkisme memang sulit dicari literatur pendukungnya untuk diuraikan secara harfiah.
Membicarakan anarkisme erat kaitannya dengan para pakar filsafat dan politik zaman dahulu, seperti Pierre-Joseph Proudhon, Mikhail Bakhunin, Peter Kropotkin, Max Stiner, dan Leo Tolstoy. Dari kelima nama di atas, Pierr-Joseph Proudhon adalah orang pertama yang menggunakan kata anarkisme sebagai filsafat politik. Seperti juga tradisi pemikiran filsafat dan politik lain, anarkisme merupakan suatu bentuk pemikiran yang mengarah ke satu tendensi. Secara umum, ada dua tendensi yang dominan dalam anarkisme, yaitu anarkis individual dan anarkis kolektif. Dalam ontologi sosial, keduanya sama dalam menolak keberadaan subyek yang terpisah dari dunia yang objektif. Dalam aksiologi, keduanya menolak otoritas sentral yang memaksakan kepatuhan warganya.
Menurut Chomsky (1970) bahwa sangat susah untuk memberikan batasan-batasan ketat terhadap tendensi-tendensi konfliktual dalam teorinya secara umum maupun ideologi. Sekalipun dibuat ekstraksi dari sejarah pemikiran libertarian dan secara teliti mengembangkan tradisi-tradisinya, tetap sulit untuk memformulasikan doktrin-doktrin anarkisme sebagai sebuah teori tentang masyarakt dan perubahan sosial yang spesifik. Menurut Goldman (1963) bahwa anarkisme bukanlah teori mengenai masa depan tetapi merupakan kekuatan yang menggerakkan keseluruhan hidup manusia yang terus-menerus mencitakan keadaan baru, berjuang dalam keadaan apapun untuk menolak sesuatu yang bisa menghambat perkembangan manusia.
Begitulah sedikit pandangan para filsuf melihat anarkisme. Akan tetapi, saya menarik mengambil pandangan dari seorang Bakhunin tentang anarkisme, yaitu negara itu seperti rumah jagal raksasa, dimana semua aspirasi riil, semua daya hidup sebuah negeri masuk dengan murah hati dan suka hati dalam bayang-bayang abstraksi tersebut, untuk membiarkan diri mereka dicincang dan dikubur. Begitu mengerikannya, sebuah negara di mata seorang Bakhunin. Negara diposisikan sebagai penindas, eksploiter, majikan bagi budak, serta biang dari degradasi manusia. Menyerang negara adalah manifestasi paling logis dari pandangan seorang anarkis sepeti Bakhunin.
Menyerang negara, apa yang dilakukan mahasiswa dan gerakan masyarakat di Indonesia saat ini dapakah dikatakan sebuah gerakan yang beraliran anarkisme? Iya, apabila kita menilai anarkisme sebatas kegiatan yang merusak dan merugikan kepentingan yang besar. Tapi menurut saya, apa yang dilakukan oleh mahasiswa dan LSM saat ini, khususnya dalam respon dalam banyak isu negara ini adalah sebatas kejadian yang bertendensi ke arah yang sangat politis dan terkesan dikendalikan. Tanpa ada keteguhan hati dalam melakukan pergerakan, hanya merusak tanpa akal.
Mengapa saya dapat mengatakan hal tersebut? Karena saya melihat dan pernah merasakan apa yang mereka perjuangkan adalah sebuah isu yang dikendalikan oleh media massa dan bukan berasal dari analisis dari kumpulan dari mereka. Seharusnya anarkisme itu sebuah kekuatan yang lahir berawal dari spontanitas rakyat yang memang merasa dirinya tidak membutuhkan negara yang telah zolim kepada rakyatnya. Tapi yang kita lihat sekarang adalah banyak masyarakat malah diam dan terkesan masa bodoh terhadap apa yang negara lakukan. Rakyat hanya memikirkan bagaimana mereka hidup besok bukan memikirkan bagaimana pemerintah bekerja. Lantas mereka yang bertindak destruktif itu bukannya membela rakyat? Kata siapa, mereka bergerak karena tuntutan wewenang mereka sebagai oposisi pemerintah bukan berdasarkan daya kritis yang terarah.
Yang jelas, tulisan saya ini hanya penilaian sederhana dari seorang saya yang dulu pernah menjadi seorang propagandis amatir. Inti dari tulisa saya ini adalah apabila saya atau anda memang tergolong seorang yang memegang anarkisme lebih baik anda melihat hal negara sebagai musuh abadi dan bukan musuh yang muncul karena ada isu yang memang empuk untuk saya atau anda keluar dan turun ke jalan. Kita bukan lah kumpulan monyet-monyet yang selalu menari ketika genderang drum berbunyi, kita adalah sebentuk manusia yang memiliki nalar dan rasa. Apabila saya atau anda peduli bahwa negara tidak perlu ada, maka perangilah negara dari segala sisinya. Lalu runtuhkan segala konstitusinya. Jangan sekali-kali saya atau anda setengah-setengah dalam melakukan gerakan pembaharuan, kalau memang momentumnya tepat, maka lakukan lah. Sekian. [27 Maret; 23.47]

Comments

Eskalasi Indonesia; Kuartal Pertama

Sebuah tulisan lain dari saya yang kali ini mengingatkan saya dulu sewaktu masih menjadi anggota parlemen jalanan. Menjadi propagandis yang bengis dan tak logis adalah catatan indah hidup saya. Silahkan bagi yang berkenan membacanya.
Banyak sepatu yang bau kaki, pakaian kotor yang menumpuk, dan debu di kamar yang menggunung. Itulah sekilas suasana kamar saya, terlihat sangat edgy dan nasty sekali memang. Ditambah suasan kamar yang cukup menguap alias panas walau di kamar kosan saya sudah ada jendela tapi tetap saja tidak angin yang masuk. Ini adalah potret nyata dari efek perubahan iklim ekstrim, dimana cuaca itu tidak menentu, kadang sangat panas dan tidak berangin, kadang hujan deras ditambah angin yang kencang seperti badai. Sudah banyak orang yang berbicara tentang perubahan iklim tapi apa daya tidak ada yang bisa menahan dampaknya. Banjir dan badai di berbagai belahan dunia adalah cerminan dari sebuah karya manusia yang selalu bertindak destruktif.
Mari tinggalkan masalah perubahan iklim ini, lantas kita beralih kepada isu yang sangat seksi saat ini. Isu kenaikan BBM, isu yang klise. Sebenarnya tahun kemarin isu ini sudah ada tapi entah kenapa masyarakat indonesia ini, begitu masih asing dengan kata kenaikan BBM. Entah mereka yang cepat bergerak kemudian cepat lupa, atau masyarakat indonesia ini begitu senang dengan adanya kekisruhan. Sebelumnya saya tidak ingin membahas ini, tapi sebagai tanggung jawab saya selaku mahasiswa yang katanya harus berbakti kepada negara maka saya memberikan sedikit sumbang pendapat untuk negara agraris ini.
Sebenarnya yang saya mau angkat di sini bukan masalah kronologi, kajian ekonomi, atau malah solusi yang aplikatif tentang isu kenaikan BBM. Karena jujur di luar sana sudah banyak orang yang sudah menyumbangkan pendapat, ide, dan gerakannya untuk merespon isu klise ini. Saya hanya membingkai masalah yang mungkin 240 juta orang Indonesia melihat dan mengetahuinya tapi saya ingin membingkainya dengan frame yang khas dari saya, walau mungkin frame saya ini juga punya banyak kesamaan dengan orang lain tapi saya mungkin mencoba untuk membuatnya. Tidak panjang, runut, dan dalam. Hanya sebatas pendapat sederhana dari seorang mahasiswa tingkat akhir yang sedang gundah gulana saja.
Sebuah konstelasi politik yang begitu riuh di awal tahun ini, membuat seluruh rakyat indonesia menjadi seorang mahasiswa jurusan sosial politik dengan pandangan mereka terhadap kasus wisma atlet dan banyak kasus korupsi lain di negara ini pada awal tahun naga ini. Media menggiring masyarakat Indonesia ke arah pandangan yang menurut saya sangat bengis, ketika kita disajikan fakta-fakta yang bersifat terfriksi dan malah sepotong-potong dari kasus wisma atlet.
Kita berpendapat dengan serentak dan berprasangka berjamaah terhadap apa yang terjadi sebenarnya. Mahasiswa bergerak meminta kejelasan dari kasus tersebut dan sedikit mengangkat kasus bank century yang tak kunjung jelas penyelesaianya. Mahasiswa menggiring bola salju dan di level pejabat mereka menggiring bola salju juga yang berbeda warna dan arah. Kalau mahasiswa menggiring bola salju yang berwarna kebenaran dan pembelaan terhadap negara ke arah pemerintah, tapi pada level pejabat mereka menggiring bola salju yang berwarna kepentingan yang arahnya ke masing-masing rivalnya pada level tersebut. Dapat saya katakan seperti anak-anak yang berada di hamparan luas taman bersalju dan mereka bermain perang bola salju.
Satu dua bulan berjalan isu itu bergulir di masyarakat. Media sebenarnya juga memegang kendali dari perang bola salju itu, sebagaimana kita tahu bersama raja media di negara ini adalah para politikus sehingga mereka dengan asiknya memainkan perannya sebagai politikus yang lihai mengarahkan isu. Jangan salah media atau pemiliknya ketika terjadi kisruh ini, tapi salah diri kita yang mengapa masih saja manggut-manggut mendengar media menyampaikan isu itu. Bukannya malah berpikir solusi atau mengganti channel stasiun televisi tapi malah sibuk bercengkarama dengan media sosial untuk mengangkat kembali masalah yang sebenarnya sudah ditelevisikan. Saya adalah bagian dari mereka yang saya maksud, betapa saya bodoh dan memang saya butuh belajar banyak dari anda sekalian yang sudah menjadi masyarakat madani. Masyarakat madani? Menarik, sebuah impian dari seluruh negara dunia untuk bisa menciptakan masyarakat yang cerdas secara multidimensional.
Bulan ketiga tahun ini berpijak pada 26 hari lalu, isu kasus wisma atlet pun menghilang seperti ditelan bumi. Lahirlah wacana kenaikan BBM yang akan disahkan pada 1 april tahun ini. Bencana untuk kita semua, lantas mengapa isu ini lahir lagi? Bukannya tahun kemarin sudah ada? Dengan segala kerendahan hati semua masyarakat kembali riuh di berbagai media sosial berbincang masalah ini dan melupakan sejenak apa yang mereka perdebatkan pada bulan-bulan sebelumnya. Cepat naik darah tapi cepat lupa, begitu ciri atmosfer sosial di negara saya yang tercinta ini. Unik, maka dari itu negara saya bisa masuk G-20 dan menjadi salah satu negara yang saat ini menjadi incaran investor asing akibat pertumbuhan ekonominya yang superior.
Saya melihat negara saya dengan segala kebanggaan, di tengah riuh pecahnya aksi jalanan dan intrik di berbagai dimensi negara ini tapi kita masih bisa gagah menjadi salah satu Most Valuable Player dalam ekonomi dunia saat ini. Di tengah turunnya popularitas pak SBY akibat ulah partainya yang tidak karuan itu dan munculnya banyak pemimpin muda bangsa yang menjanjikan seperti Joko Widodo, Mahfud MD, dan Dahlan Iskan. Bangsa Indonesia yang diwakili oleh pak SBY dan jajaran masih bisa banyak berbicara di pentas dunia, seperti di pertemuan WEF dan banyak forum dunia lain.
Di luar apakah ini benar atau tidak, saya hanya berpendapat dengan momentum kenaikan BBM ini pemerintah memang terposisikan sebagai aktor antagonis bagi sebagian masyarakat oposisi tapi ingat banyak masyarakat yang berbedera abu-abu di sana. Masyarakat yang melihat sebuah fakta secara realistis, yang cenderung mungkin membenci kekisruhan yang ada sekarang ini. Saya melihat dengan adanya gerakan kontra kenaikan BBM, seperti memposisikan pemerintah sebagai aktor protagonis yang digepung massa dan akan dihabisi. Lantas menurut anda apakah respon dari masyarakat yang berbendera abu-abu itu?
Begitu kompleks ekskalasi politik bernegara di Indonesia memang, antara saya dan anda mungkin kita punya kepentingan kita masing-masing pastinya. Tapi kalau mau dikomparasikan dengan negara tetangga, yaitu Thailand. Mereka pernah berdemo tapi mereka punya komitmen bersama untuk maju, tidak etis memang saya membandingka negara sekecil Thailand dengan Indonesia tapi mungkin kita bisa belajar berkomitmen bersama untuk maju. Karena sepenglihatan saya, bahwa saya di kampus memang diajak untuk berkomitmen tapi komitmen itu hanya untuk saya bisa menjalankan amanah yang saya dapat bukan malah saya berkomitmen untuk menyelesaikan pekerjaan saya dan bertanggung jawab juga untuk memajukan orang lain, yang begitu juga orang lain berkomitmen bersama dengan saya dan semua dari kita.
Lantas hubungannya dengan kenaikan BBM apa? Ada, hubungannya adalah kita untuk bersama belajar untuk berkomitmen bersama untuk maju sehingga isu yang menurut saya klise ini tidak terulang lagi pada chapter lain. Memang sangat normatif, tapi konten sebenarnya adalah kita harus mengerti betul masalah yang ada sekarang ini dan menguraikannya bersama. Masih sangat normatif? Masih sangat normatif. Lalu apa saran saya? Maaf sejauh ini hanya itu yang dapat saya berikan, karena pengalaman dan kapasitas saya yang memang masih minim sehingga solusi yang terlahir masih sangat sederhana dan normatif. Sekian

Comments

Satire-Ria

Tulisan kedua saya di tanggal 25 Maret ini memang sedikit aneh, tapi percayalah bahwa pribadi saya mungkin lebih aneh dari tulisan ini. Kembali, saya ajak anda yang sudi membaca posting-an saya untuk merasakan bagaimana saya berpendapat, agak kasar tapi inilah saya.
Pada tulisan saya kali ini saya ingin sedikit bersatire ria dengan semua hal yang saya lihat dan rasakan. Dunia tempat kita tinggal ini terdiri dari multi facet. Kata multi facet sering saya dengar di mata pelajaran Biologi yang menjelaskan anatomi serangga. Adapun artinya adalah dimana serangga tersebut memiliki lebih dari sepasang mata untuk melihat. Dunia yang kita pijak sekarang sama konsepnya, dimana setiap manusia memiliki cara pandang sendiri-sendiri dalam menilai sesuatu. Sehingga apabila dunia diibaratkan makhluk hidup dan manusia adalah mata dari dunia tersebut maka duni memiliki banyak mata yang memandang berbeda masalah-masalah yang ada. Klise memang ketika saya mengatakan bahwa dalam satu situasi ada berbagai cara pandang. Dan mencengangkan memang saat saya katakan bahwa orang bijak adalah orang yang dapat melihat dari berbagai arah, sedangkan orang picik adalah orang yang tidak hanya melihat satu arah.
Saya sedih jika ada sesama hamba Tuhan yang bertugas di dunia ini dengan satu wewenangnya yaitu menjadi pekerja ladang Tuhan saling begunjing dan menghakimi. Lantas apa hubungannya ketika saya mengatakan ada orang bijak dan picik dengan keadaan bahwa kita semua adalah khalifah di dunia ini? Hubungannya adalah ketika kita mengerti posisi kita di dunia ini seperti apa maka kita harus mengerti apabila ketika kita melihat sesuatu harus dari berbagai arah sehingga wewenang kita di dunia ini menjadi lebih bijak dan berarti. Memangnya kalau menjadi orang picik, manusia tidak bisa menjadi seorang khalifah yang mumpuni? Menurut saya sulit, karena ketika seorang manusia sudah saklek dengan satu sisi yang ia anggap benar tanpa melihat komparasi yang lain maka akan timbul keegoisan yang tinggi dan mengakibatkan apa yang ia lakukan terkesan ambisius dan semaunya saja, karena memang itu tabiat segilintir manusia.
Bagi orang picik, fakta tidak penting dan menolak perbedaan, mengkritik, mencela, seakan-akan dapat dilakukan dengan refleks adalah hal yang lumrah. Ironisnya, kebanyakan orang picik bukanlah orang bodoh. Kadang justru mereka terlalu berpendidikan. Lantas perbedaan mereka dengan orang bodoh itu apa? Perbedaanya adalah tingkat pengetahuannya yang tinggi. Menyedihkan bahwa mereka memiliki persamaan yang kuat dengan orang bodoh yaitu pandangan mereka yang sempit. Mereka telah terbiasa dengan cara pandang yang keliru, melihat dari sisi yang sering mereka pakai dan mengindahkan segala hal yang berbau lingkungan luar dari dirinya.
Seringkali cara pandang orang berasal dari kebiasaan-kebiasaan yang telah tebentuk sekian lama. Begitu juga orang picik, ia lahir dari kebiasaan-kebiasaannya menjadi seorang manusia superior tanpa melihat sekelilingnya yang malah sebenarnya lebih superior dari dirinya. Ironisnya, sangat sulit bagi orang picik menjadi orang bijak karena ketika mereka melihat dari sudut pandang sebaliknya, mereka butuh usaha, keinginan dan ketetapan hati yang maha kuat. Mungkin cara sederhananya adalah bagaimana orang picik dapat berpikir bahwa perbedaan itu ada, lalu setelah itu mereka mungkin perlahan harus menerima perbedaan itu. Faktanya memang perlu latihan untuk bisa melihat dari sisi yang lain apalagi itu bukan cara kita, karena memang saya adalah salah satu orang picik itu.
Ada sebuah kalimat yang cukup unik dari seorang kawan bahwa bukankah dari buahnya kita mengenal pohonnya, darimana datang pertumbuhan yang demikian pesat, jika bukan dari Tuhan? Ini lah bagaiman kita melihat bahwa keyakinan seorang manusia terhadap Tuhan akan menjadi sangat logis dan mengembalikan niatan serta pola pikir kita yang mungkin picik. Mengenal Tuhan dan saya percaya kita memiliki sedikit sifat Tuhan yang ditiupkan-Nya ketika kita diturunkan ke dunia ini. Tapi lantas sifat itu tergerus akibat kefanaan dunia. Saya berpendapat seperti ini bukan karena saya paling alim atau apalah itu, tapi saya mencoba untuk membuat diri saya mengerti dan terus mengerti. Dan mungkin inilah salah satu sebab mengapa orang dewasa perlu belajar dari anak kecil. Anak-anak tidak memiliki ekspektasi penilaian dan tidak dibatasi oleh aturan yang baku. Anak-anak yang dianggap orang dewasa bodoh justru memiliki kebebasan untuk menilai, mencipta, dan berkreasi. Sekian

Comments

Mahasiswa Sebagai Motor Penggerak Dalam Hal Memerangi Korupsi

Ini adalah tulisan dari saya dan dua orang teman saya. Tujuan kami menulis ini adalah sebagai syarat keikutsertaan untuk ikut suatu perlombaan yang bertemakan gerakan anti korupsi di kampus. Mungkin tulisan ini lahir pada pertengahan tahun 2011.Maaf apabila terkesan normatif, tapi memang ini ditulis dengan waktu yang sangat singkat.

“Corruption is worse than prostitution. The latter might endanger the morals of an individual,the former invariably endangers the morals of the entire country.” -Karl Kraus-

Menyandang gelar mahasiswa bukanlah suatu hal yang mudah . Kebebasan kekuasaan dan kebanggaan merupakan hal yang umum dialami mahasiswa . Mendefinisikan arti kata mahasiswa juga tidak bisa hanya melalui kata per kata . Ada banyak aspek yang bisa menjelaskan mahasiswa , seperti dari sisi sosial nya , peranan moral nya maupun sisi intelektualnya . Banyak yang sudah memahami dan mengetahui bahwa mahasiswa merupaka bagian dari “ agent of change “ . Mahasiswa dianggap sudah mampu dan bisa mewakili aspirasi berbagai pihak terhadap suatu perubahan maupun terhadap apa yang diaspirasikan berbagai pihak. Saat berbagai media yang tersedia maupun berbagai pihak yang dipercaya tidak mampu lagi menyuarakan apa yang diinginkan masyarakat , maka tanggung jawab mahasiswa lah untuk membantu menyalurkan aspirasi tersebut . Hal ini bisa dianggap sebagai suatu kebanggaan maupun sebagai suatu tantangan yang besar dan tidak mudah .

Konsep Mahasiswa
Mahasiswa dalam peraturan pemerintah RI No.30 tahun 1990 adalah peserta didik yang terdaftar dan belajar di perguruan tinggi tertentu. Mahasiswa menurut Knopfemacher (dalam Suwono, 1978) adalah merupakan insane-insan calon sarjana yang dalam keterlibatannya dengan perguruan tinggi (yang makin menyatu dengan masyarakat), dididik dan di harapkan menjadi calon-calon intelektual. Menilik dari definisi tersebut , mahasiswa adalah sekelompok masyarakat yang unik , yang ditugaskan untuk mengedepankan sisi intelektualnya namun diharapkan dapat dekat dengan masyarakat . Dalam keterkaitannya dengan Bangsa Indonesia, tidak sedikit tinta emas yang mampu ditorehkan mahasiswa dalam membangun Indosnesia . Bangkit dan majunya bangsa Indonesia tidak bisa dipisahkan dari kata mahasiswa di dalamnya. Dua hal yang menjadi ciri khas mahasiswa dari dulu hingga kapanpun adalah semangat dan idealisme.
Apabila kita menengok ke belakang pada sejarah perjuangan bangsa, kita bisa melihat bahwa mahasiswa memiliki peranan yang teramat penting di dalamnya. Sejarah perjuangan mahasiswa bisa kita klasifikasikan ke dalam enam tahapan yakni dari periode 1908 sampai 1999. Diawali dengan kebangkitan Bangsa Indonesia dalam melawan penjajahan Belanda yang dimotori oleh para mahasiswa kedokteran STOVIA. Kemudian dari kebangkitan kaum terpelajar, mahasiswa, intelektual, dan aktivis pemuda itulah, munculnya generasi baru pemuda Indonesia “generasi 1928” dan tercetusnya Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Lalu peristiwa Rengasdengklok yang dilatarbelakangi oleh adanya perbedaan pandangan antar generasi tentang langkah-langkah yang harus ditempuh dalam memproklamasikan kemerdekaan menghasilkan proklamasi negara Indonesia yang merdeka tanggal 17 Agustus 1945. Demikian juga dengan Soekarno, sang Proklamator Kemerdekaan RI merupakan tokoh pergerakan mahasiswa. Ketika pemerintahan bung Karno tidak stabil karena situasi politik yang memanas pada tahun 1966, mahasiswa tampil ke depan memberikan semangat bagi pelaksanaan tritura yang akhirnya melahirkan orde baru.
Berlanjut dengan aksi selanjutnya yakni mengambil inisiatif dengan membentuk Komite Anti Korupsi (KAK) dan insiden peristiwa Malari tahun 1974 dimana Gerakan mahasiswa di Jakarta mngajukan isu ”ganyang korupsi” sebagai salah satu tuntutan “Tritura Baru” disamping dua tuntutan lainnya Bubarkan Asisten Pribadi dan Turunkan Harga, sebuah versi terakhir Tritura yang muncul setelah versi koran Mahasiswa Indonesia di Bandung sebelumnya. Kemudian seiring dengan merebaknya penyimpangan penyimpangan yang dilakukan oleh orde baru, mahasiswa memelopori perubahan yang kemudian melahirkan jaman reformasi.
Demikianlah sejarah perjuangan mahasiswa yang dengan semangat dan idealisme nya mampu menggulingkan roda pemerintahan . Namun perjuangan mahasiswa tidak sampai disitu saja , saat ini , pada orde baru ini mahasiswa dihadapkan pada permasalahan yang lebih kompleks, lebih sistematis dan lebih terarah dan mengakar di seluruh lapisan masyarakat yakni masalah korupsi di Indonesia . Mungkin sudah banyak para pakar maupun ahli yang menyadari bahwa saat ini , korupsi di Indonesia sudah bisa dikatakan sebagai sesuatu yang sudah membudaya , sulit dihilangkan terlebih lagi dengan upaya pemberantasan nya yang cenderung tebang pilih . Ada banyak pihak yang pro maupun kontra dengan adanya tindak korupsi, namun bagaimanapun korupsi merupakan hal yang dapat merugikan Negara dan merusak sendi sendi kebersamaan bangsa . Korupsi bagaikan “benalu sosial” yang merusak struktur pemerintahan, dan menjadi penghambat utama terhadap jalannya pemerintahan dan pembangunan pada umumnya. Dalam prakteknya, korupsi sangat sukar bahkan hampir tidak mungkin dapat diberantas karena tidak ada satupun pihak yang mampu dan berani menghentikannya .

Pengertian Korupsi
Korupsi merupakan hasil dari ekses system politik dan ekonomi yang tidak dikelola secara beradab oleh para pemangku kekuasaan. Sebelum berbicara jauh tentang korupsi, terlebih dahulu kita harus tahu secara komprehensif tentang pengertian korupsi itu sendiri. Pengertian korupsi dari perspektif yang ada adalah segala tindakan yang menyelewengkan wewenang atau kekuasaan demi materi yang sejatinya adalah milik publik, untuk kepentingan pribadi atau perorangan. Definisi ini tidak hanya menyangkut korupsi moneter yang umum tetapi menyangkut pula korupsi politik dan administratif. Seorang administrator yang memanfaatkan kedudukannya untuk menguras pembayaran tidak resmi dari para investor (domestik maupun asing), memakai sumber pemerintah, kedudukan, martabat, status, atau kewenangannnya yang resmi, untuk keuntungan pribadi dapat pula dikategorikan melakukan tindak korupsi. Disini terlihat, bagaimana korupsi memiliki bentuk yang bervariasi, sehingga menuntut public untuk lebih jeli memandang korupsi dan mengawasi para pejabat public.
Adapun cakupan tindakan korupsi menurut UU. No 31/1999 jo UU. No.20/2001 antara lain adalah Melawan Hukum, memperkaya diri, orang/badan yang merugikan keuangan/perekonomian negara (pasal 2), Menyalahgunakan kewenangan karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan/perekonomian Negara (pasal 3), Kelompok delik penyuapan yang diiringi dengan komitmen-komitmen antar pelaku (pasal 5, 6 dan 11), Kelompok delik penggelapan dalam jabatan (pasal 8, 9 dan 10), Delik pemerasan dalam jabatan (pasal 12), Delik yang berkaitan dengan pemborongan (pasal 7), dan Delik Gratifikasi atau yang diterima dalam negeri ataupun luar negeri baik dilakukan dengan menggunakan sarana elektronik ataupun tanpa sarana elektronik dan tanpa diiringi komitmen layaknya penyuapan (pasal 12B dan 12C).

Dampak Korupsi
Terlihat dengan jelas adanya pemanfaatan yang salah dari suatu amanah yang menimbulkan kerugian yang begitu besar, secara materil atau pun non materil. Adapun kerugian materil yang berkaitan erat dengan ekonomi adalah pertama, dari sisi utang Negara akan meningkat. Adapun skema dari kaitan tersebut adalah lenyapnya bertriliun uang dari kas Negara hanya karena tindak tanduk dari para negarawan yang tidak bertanggungjawab. Yang notabenenya adalah uang rakyat yang sejatinya dihimpun untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat itu sendiri, sehingga anggaran Negara untuk kebutuhan public berkurang. Kekurangannya tersebut dapat berimbas kepada naiknya angka defisit anggaran yang akan memicu naiknya rasio utang.
Di poin pertama dijelaskan dampak korupsi mengarah ke rasio utang, maka di poin kedua akan menjelaskan dampak korupsi dari sisi neraca penerimaan pemerintah. Adapun dari sisi neraca penerimaan pemerintah dibagi menjadi dua aspek dasar yaitu penerimaan pajak dan produtifitas infrastruktur. Dari aspek penerimaan pajak akan terjadi pengurangan jumlah karena sudah dipangkas terlebih dahulu setoran pajak oleh para petugas pajak di lapangan.
Kemudian, dari aspek produktifitas infrastruktur yang notabenenya aspek penggerak pasar yang berkorelasi erat dengan roda perekonomian publik, akan terjadi erosi dana oleh para penanggungjawab infrastruktur di lapangan, yang menimbulkan tersendatnya lalu lintas perekonomian publik. Pada poin ketiga adalah dampak korupsi dari sisi pertumbuhan ekonomi, jelas ketika rasio utang Negara naik dan penerimaan Negara turun maka pertumbuhan ekonomi Negara tersebut akan mengarah ke angka negative. Angka negative dari pertumbuhan ekonomi Negara tersebut mengindikasikan lambatnya roda perekonomiannya.
Kemudian, akibat nyata korupsi yang berupa non materil, yang biasa dikaitkan dengan aspek social antara lain pertama, tingginya angka kemiskinan akibat tergerusnya dana kesejahteraan rakyat oleh para koruptor, yang juga membuka kemungkinan naiknya angka pengangguran dan kriminalitas. Kedua, hilangnya kepercayaan public terhadap para penyelenggara negara yang berdampak adanya keguncangan dengan terjadinya aksi massal dari public yang tidak menutup kemungkinan terhamparnya aksi anarkhi , seperti yang terjadi saat penggulingan Soeharto pada tahun 1997. Lebih parahnya lagi, diprediksi akan adanya keinginan public untuk memisahkan diri dari tanah nusantara.

Upaya Memerangi Korupsi
Upaya memerangi korupsi bukanlah hal yang mudah. Dari pengalaman negara-negara lain yang dinilai sukses memerangi korupsi, segenap elemen bangsa dan masyarakat harus dilibatkan dalam upaya memerangi korupsi melalui cara-cara yang simultan. Upaya pemberantasan korupsi meliputi beberapa prinsip, antara lain:
* memahami hal-hal yang menjadi penyebab korupsi,
* upaya pencegahan, investigasi, serta edukasi dilakukan secara bersamaan,
* tindakan diarahkan terhadap suatu kegiatan dari hulu sampai hilir yang integratif
Sebagaimana Hong Kong dengan ICAC-nya, maka strategi yang perlu dikembangkan adalah strategi memerangi korupsi dengan pendekatan tiga pilar yaitu preventif, investigative dan edukatif. Strategi preventif adalah strategi upaya pencegahan korupsi melalui perbaikan system dan prosedur dengan membangun budaya organisasi yang mengedepankan prinsip-prinsip fairness, transparency, accountability & responsibility yang mampu mendorong setiap individu untuk melaporkan segala bentuk korupsi yang terjadi. Strategi investigatif adalah upaya memerangi korupsi melalui deteksi, investigasi dan penegakan hukum terhadap para pelaku korupsi. Sedangkan strategi edukatif adalah upaya pemberantasan korupsi dengan mendorong masyarakat untuk berperan serta memerangi korupsi dengan sesuai dengan kapasitas dan kewenangan masing-masing. Kepada masyarakat perlu ditanamkan nilai-nilai kejujuran (integrity) serta kebencian terhadap korupsi melalui pesan-pesan moral.
Selain mengenal karakteristik korupsi, pengenalan diri diperlukan untuk menentukan strategi yang efektif yang akan digunakan. Dalam kaitannya dengan hal tersebut, mahasiswa harus menyadari siapa dirinya, dan kekuatan dan kemampuan apa yang dimilikinya yang dapat digunakan untuk menghadapi peperangan melawan korupsi. Apabila kita menilik ke dalam untuk mengetahui apa hakekat dari mahasiswa, maka kita akan mengetahui bahwa mahasiswa mempunyai banyak sekali sisi. Disatu sisi mahasiswa merupakan peserta didik, dimana mahasiswa diproyeksikan menjadi birokrat, teknokrat, pengusaha, dan berbagai profesi lainnya.
Dalam hal ini mahasiswa dituntut untuk memiliki kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual. Hal tersebut disebabkan kecerdasan intelektual tidak dapat mencegah orang untuk menjadi serakah, egois, dan bersikap negatif lainnya. Dengan berbekal hal-hal tersebut, mahasiswa akan dapat menjadi agen pembaharu yang handal, yang menggantikan peran-peran pendahulunya di masa yang akan datang akan dapat melakukan perbaikan terhadap kondisi yang ada kearah yang lebih baik. Di sisi lain, mahasiswa juga dituntut berperan untuk melakukan kontrol sosial terhadap penyimpangan yang terjadi terhadap sistem, norma, dan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Selain itu, Mahasiswa juga dapat berperan dalam mempengaruhi kebijakan publik dari pemerintah.

Usaha Mahasiswa dalam Memerangi Korupsi
Usaha-usaha yang dapat dilakukan oleh mahasiswa untuk mempengaruhi keputusan politik adalah dengan melakukan penyebaran informasi/tanggapan atas kebijakan pemerintah dengan melakukan membangun opini public, jumpa pers, diskusi terbuka dengan pihak-pihak yang berkompeten. Selain itu, mahasiswa juga menyampaikan tuntutan dengan melakukan demonstrasi dan pengerahan massa dalam jumlah besar. Di samping itu, mahasiswa mempunyai jaringan yang luas, baik antar mahasiswa maupun dengan lembaga-lembaga swadaya masyarakat sehingga apabila dikoordinasikan dengan baik akan menjadi kekuatan yang sangat besar untuk menekan pemerintah.
Untuk dapat berperan secara optimal dalam pemberantasan korupsi adalah pembenahan terhadap diri dan kampusnya. Dengan kata lain, mahasiswa harus mendemonstrasikan bahwa diri dan kampusnya harus bersih dan jauh dari perbuatan korupsi. Untuk mewujudkan hal tersebut, upaya pemberantasan korupsi dimulai dari awal masuk perkuliahan. Pada masa ini merupakan masa penerimaan mahasiswa, dimana mahasiswa diharapkan mengkritisi kebijakan internal kampus dan sekaligus melakukan pressure kepada pemerintah agar undang-undang yang mengatur pendidikan tidak memberikan peluang terjadinya korupsi. Di samping itu, mahasiswa melakukan kontrol terhadap jalannya penerimaan mahasiswa baru dan melaporkan kepada pihak-pihak yang berwenang atas penyelewengan yang ada.
Selain itu, mahasiswa juga melakukan upaya edukasi terhadap rekan-rekannya ataupun calon mahasiswa untuk menghindari adanya praktik-praktik yang tidak sehat dalam proses penerimaan mahasiswa. Selanjutnya adalah pada proses perkuliahan. Dalam masa ini, perlu penekanan terhadap moralitas mahasiswa dalam berkompetisi untuk memperoleh nilai yang setinggi-tingginya, tanpa melalui cara-cara yang curang. Upaya preventif yang dapat dilakukan adalah dengan jalan membentengi diri dari rasa malas belajar. Hal krusial lain dalam masa ini adalah masalah penggunaan dana yang ada dilingkungan kampus.
Untuk itu diperlukan upaya investigatif berupa melakukan kajian kritis terhadap laporan-laporan pertanggungjawaban realisasi penerimaan dan pengeluarannya. Sedangkan upaya edukatif penumbuhan sikap anti korupsi dapat dilakukan melalui media berupa seminar, diskusi, dialog. Selain itu media berupa lomba-lomba karya ilmiah pemberantasan korupsi ataupun melalui bahasa seni baik lukisan, drama, dan lain-lain juga dapat dimanfaatkan juga. Selanjutnya pada tahap akhir perkuliahan, dimana pada masa ini mahasiswa memperoleh gelar kesarjanaan sebagai tanda akhir proses belajar secara formal. Mahasiswa harus memahami bahwa gelar kesarjanaan yang diemban memiliki konsekuensi berupa tanggung jawab moral sehingga perlu dihindari upaya-upaya melalui jalan pintas.
Mahasiswa merupakan bagian dari masyarakat, mahasiswa merupakan faktor pendorong dan pemberi semangat sekaligus memberikan contoh dalam menerapkan perilaku terpuji. Peran mahasiswa dalam masyarakat secara garis besar dapat digolongkan menjadi peran sebagai kontrol sosial dan peran sebagai pembaharu yang diharapkan mampu melakukan pembaharuan terhadap sistem yang ada. Dalam hal memerangi korupsi, upaya mahasiswa sangatlah penting dan strategis. Seperti halnya yang dijelaskan di atas terkait konsep mahasiswa dan upaya mahasiswa dalam pemberantasan korupsi, maka tepat dikatakan bahwa mahasiswa merupakan motor penggerak dalam hal memerangi korupsi, dilihat dari potensi yang dimiliki. Sekian

Comments

Siapa Peduli

Judul ‘Siapa Peduli’ ini begitu mencerminkan seorang saya sekali nampaknya. Di tengah orang-orang sedang berada di sana dan berkerumun, saya malah ada di bagian paling tepi sambil menegak sekaleng vanilla latte dan menghidupkan pemutar musik. Apabila anda seorang follower tumblr saya tercinta yang tidak sengaja melihat tulisan saya ini, lebih baik melongkapinya saja. Karena ini tulisan yang tidak begitu berbobot.
Mungkin banyak manusia yang terlalu eksplosif dan ada pula yang sangat implosif, mungkin saya ada di antaranya. Okay, whatever! Saya hanya ingin menancapkan sebuah paradigma baru dalam tumblr saya bahwa mungkin TRONDHEIM ini baru hidup 2-3 bulan lalu ketika saya frustasi untuk menaruh segala karya saya yang apa adanya ini, seperti artwork, analisis, ataupun narasi. Yang jelas kehidupan itu mungki lebih terasa ketika kita berada dalam sebuah kondisi yang sangat pusing dan berkeringat dingin. Kondisi yang menceritakan bahwa saya atau anda berada dalam sebuah konstelasi berpikir yang begitu keras untuk mencari jalan keluar dari sebuah masalah yang datang seperti tidak terjadwal dan terkesan eperti penagih utang. Begitu mencekik dan sangat tidak enak tentunya. Saya atau anda sangat mungkin sering mengalaminya. Entah sekarang atau kemarin. Lantas apa dasar saya menulis tulisan ini? Tidak ada.
Terus mana paradigma baru yang saya katakan pada kalimat di atas? Oya, hampir saya lupa. Paradigma baru itu adalah tumblr saya ini hanya rumah sederhana yang tidak perlu banyak orang datang dan melihatnya karena itu bukan kepuasan terbesar saya, lantas kepuasan terbesar saya apa? Sederhana, saya akan sangat puas untuk bisa terus menulis dan mendesain. Walau saya mengerti betul bahwa tulisan-tulisan dan desain-desain saya hanya sebatas karya kacangan nan amatir. Apakah saya peduli dengan eksistensi? Sebuah pertanyaan yang mengantarkan saya kepada pendewasaan hidup. Karena menurut saya aktualisasi diri itu bukan untuk dikenal tapi untuk terus berbuat tanpa menoleh ke kiri atau kanan sambil mengharap ada orang yang mau datang kepada saya dan memberi selamat atas apa yang saya lakukan. Apakah berarti saya tidak butuh orang untuk berkunjung ke tumblr saya dan mengejar eksistensi dari segala karya saya? Ya, tepat sekali. Sekian [22 Maret;00.39]

Comments

Tolong Jangan Dibaca

Lagi dan lagi, gw menulis dengan penuh kekesalan sehingga tolong jangan dibaca. Ini saya beri tahu agar anda tidak ikut geram terhadap saya ataupun objek yang saya kritisi. Yang jelas ini hanya opini yang saya coba gali dari sebuah fakta yang ada di lingkungan, yang katanya akademisi dan mengemban nasib rakyat. Gw agak shock baca komentar di salah satu akun media sosial yang mengatakan bahwa :

‘Sebenernya bukan masalah berapa harga jual minyaknya namun yang jadi masalahnya itu minyak nggak boleh di jual karena itu milik umat. sehingga harus dikembalikan pada umat. negara hanya boleh mengambil biaya costnya saja sehingga kalau dihitung-hitung bensin itu harganya tidak lebih dari 1.500 rupiah saja bahkan bisa lebih murah lagi.’

Menurut gw ini adalah salah satu contoh dari masyarakat yang sangat saklek dengan namanya keteguhan hati yang nyatanya agak nyeleneh kalau ditelaah. Kalimat ’ minyak nggak boleh dijual karena itu milik umat’ adalah kalimat yang membuktikan bahwa minyak itu mesti dibagi-bagi secara gratis. Akan tetapi di kalimat selanjutnya, sang komentator menambahkan bahwa ‘negara hanya boleh mengambil biaya costnya saja sehingga kalau dihitung-hitung bensin itu harganya tidak lebih dari 1.500 rupiah saja bahkan bisa lebih murah lagi’ yang menurut saya kalimatnya ini begitu menggampangkan suatu hal yang nantinya akan diserahkan ke Tuhan YME.
Investasi untuk menambang minyak itu bukan seperti investasi untuk usaha kaki lima yang menjajakkan rujak atau usaha warung kopi. Tapi ini adalah usaha yang bermodal super besar yang apabila kita menanamkan modalnya di sana maka jangan harap bisa untuk men-switch usaha kita itu dengan gampang. Berarti di sana dibutuhkan biaya pengorbanan yang besar juga yang nantinya dilimpahkan ke konsumen atau masyarakat. Kalau memang katanya negara yang mengambil biaya, maka dimana logikanya ini, faktanya malah negara yang menalangi harga minyak masyarakat dengan subsidi. Seharusnya kita tahu banyak Indonesia saat ini adala net importer minyak yang dalam kata lain apabila ada gejolak harga minyak dunia maka Indonesia hanya bisa pasrah karena sudah ketergantungan.
Adapun tulisan saya ini adalah saya ingin menunjukkan bahwa menyedihkan melihat potret kaum akademisi yang berpikir sangat amat sempit dan parsial. Mereka yang mengelu-elukan kepentingan rakyat tapi pandangan mereka terhadap isu sangat dangkal. Pantas kalau banyak dari mereka yang saat ini masih istiqomah di jalan itu dan suatu saat menjadi pejabat, lalu yang ujung-ujungnya tidak becus mengelola negara dan masuk bui karena korupsi. Sekian [19 Maret;00.20]

Comments

Lirik Eksistensi yang Sumbang

Dewasa ini, banyak manusia kehilangan pemahaman akan eksistensi hidupnya karena merasa hidupnya terlalu singkat dan membosankan. Ini adalah realita yang cukup akrab di kalangan hedonis. Kasus penyimpangan orientasi seksual dan kasus pembunuhan tidak beradab adalah dua contoh dari banyak realita tentang abrasi pemahaman eksistensi. Fakta di atas merupakan suatu bagian kecil dari gambaran realita manusia yang apabila saya sebut adalah proyeksi dari depresi akan eksistensi dirinya sebagai ciptaan tuhan. Mengapa saya katakan demikian, karena pada dasarnya manusia yang mengalami fakta-fakta di atas adalah manusia yang belum paham benar apa hakikat dia diciptakan di bumi ini. Apabila ditilik lebih dalam, manusia diciptakan dengan segala kesempurnaannya sehingga tidak sepantasnya kita menyia-nyiakan pemberian tersebut. Kasus penyelewengan orientasi seksual yang merupakan gambaran akan kefrustasian diri individu akan kepuasan biologis dan tidak melihat urgensi diciptakannya nafsu.
Kemudian kasus pembunuhan yang tidak beradab merupakan suatu bentuk kesalahan dalam memandang kesempurnaan, adapun alasannya adalah ketika kita membunuh seseorang berarti di sana ada pikiran kalau kita adalah yang paling kuat. Padahal salah, ketika kita merasa yang paling kuat maka di saat itu lah kita harus berwaspada karena Tuhan tidak memberikan kenyataan yang faktual, dalam kata lain kita diberi bayang semu akan hidup. Darah dan nyawa yang dipertaruhkan di ujung pedang bukan lah tabiat yang Tuhan beri untuk kita, itu hanya proyeksi kotor dari ketidakmampuan meresapi hidup. Kasus-kasus di atas adalah cerminan ketidakpahaman manusia akan mengapa dan harus seperti apa mereka di bumi ini atau dalam kata lain adalah tidak mengertinya mereka akan eksistensi dirinya sendiri.
Maka dari itu penjelasan sedikit akan pengertian dan hakikat tentang eksistensi akan coba saya sajikan. Adapun istilah eksistensi pada mulanya menunjuk pada pengalaman akan kenyataan. Segala yang bereksistensi dengan cara tertentu harus terdapat dalam ruang dan waktu, dan harus merupakan objek serapan indera (Kattsof, 1986:209). Kemudian, istilah eksistensi menunjuk pada kesadaran manusia, yang dalam moralitasnya, dapat mengekspresikan identitas dirinya. Istilah eksistensi dalam pengertian yang pertama maupun kedua selalu mengarah kepada manusia. Istilah eksistensi menjelaskan apa yang menentukan pengertian manusia terhadap dirinya sendiri yang independen. Eksistensi bukan hanya berarti keberadaan manusia, tetapi juga cara berada manusia yang bertolak dari kesadaran sebagai diri (Dagun, 1990:27).
Hakikat manusia terletak dalam eksistensinya. Pemahaman terhadap eksistensi manusia bertolak dari tiga aspek yang integral. Pertama, manusia merupakan keberadaan jasmani yang tersusun dari bahan material. Kedua, keberadaan manusia tampak sebagai sosok atau organisme hidup yang menyatu dalam tampilan individu jasmani. Ketiga, manusia mempunyai ciri kehidupan mentransendensi dan meneguhkan diri sebagai eksisten (Dagun, 1990: 8).
Kutipan-kutipan di atas yang merupakan hasil pemikiran ahli-ahli filsuf memanglah menggambarkan ketajaman akan eksistensi manusia dari segi aktualitasnya. Akan tetapi, dalam islam menggambarkan eksistensi menjadi lebih lembut dan mudah dicerna. Ini termaktub dalam Al-Qur’an pada surat Al-Baqarah ayat 30 yang memiliki isi, motif diciptakannya manusia adalah untuk menjadi wakil Tuhan di bumi (khalifatullah fil ardhi). Posisi manusia yang merupakan wakil Tuhan di bumi memiliki arti, posisi manusia lebih tinggi dari semua makhluk ciptaannya yang lain. Wakil Tuhan di bumi adalah subjek yang mampu membaca dan menafsirkan kehendak dan aturan-aturan Tuhan untuk kemudian dijelmakan menjadi perilaku konkrit dalam rangka menjaga kemaslahatan bumi (Lidinillah, 2000: 106).
Segala status pastilah ada syarat pemenuhannya agar hakikatnya dapat diresapi secara jelas. Adapun syarat-syaratnya adalah pertama, taat pada regulasi yang Tuhan tetapkan dari aktivitas ibadah maupun perilaku, dengan selalu mendaras al-Qur’an secara rutin dan kaffah. Istiqomah dalam menjalankan perintah Tuhan adalah bentuk nyata dari syarat pertama. Kemudian syarat kedua yaitu harus mampu mengendalikan diri sekuat tenaga dari segala ancaman yang ada. Ketiga, adanya kemampuan manusia mencapai relasi langsung secara ruhaniah dengan Tuhan. Keempat, terdapat kemampuan manusia menyadari bahwa dirinya di hadapan Tuhan adalah khalifahNya. Sehingga ketika kesadaran itu terbentuk maka akan lahir rasa untuk teguh menjaga amanah tersebut. Kelima, adanya kemampuan manusia mengaktualisasikan hubungan langsung dengan Tuhan dan kesadaran diri sebagai khalifahNya dalam perilaku konkrit, yakni menjaga kemaslahatan dunia.
Dapat ditarik dari penjelasan di atas yaitu eksistensi manusia secara vital memegang kendali dari segala penyimpangan yang ada. Maka dari itu pemahaman yang kuat akan eksistensi diperlukan guna mengantisipasi dan merekonstruksi perilaku manusia yang jauh dari tata aturannya. Kemudian, manusia yang sudah memiliki pemahaman yang mapan akan eksistensi akan mengerti apabila tugas yang diemban adalah menjadi wakil Tuhan di bumi yang dititis dengan berbagai kemampuan yang digunakan untuk mengolah dan menjaga bumi ini agar memiliki atmosfer yang kondusif. Dan tanggung jawab yang ditaruh di bahu manusia adalah kepastian agar bumi ini tetap terjaga dari segi fisik dan non fisik. Sekian

Comments

Cerminan Kelas Sosial

Judul tulisan ini bak saya adalah seorang sosiolog yang ingin membedah masalah sosial di lingkungan saya, tapi faktanya tulisan ini adalah berisi beberapa paragraf yang mencerminkan secuil realitas bahwa masa depan seorang individu adalah cerminan kelas sosial yang akan menaikkan derajat keluarga mereka dan dirinya sendiri tentunya.
Apa yang saya bagikan di malam ini? Narasi? atau apa? Untuk narasi mungkin tidak, karena memang saya sedang tidak ada ide. Lantas apa? Mungkin saya hanya menulis beberapa bait tentang apa yang saya pikirkan malam ini. Bait tentang apakah itu? Bait tentang masalah yang bukan non-materiil, masalah yang selalu dialami semua orang. Saya bimbang, mungkin. Saya bingung, mungkin. Saya peduli dengan itu, sangat mungkin. Lalu? Yang jelas saya termenung ketika Ibu saya mengatakan bahwa apabila saya nanti sudah lulus saya disuruh ngekost di jakarta. Apa dasar ibu saya mengatakan itu? Ya karena rumah kontrakan yang kami tempati ini sudah sangat sempit, apalagi nanti saya dan barang-barang saya yang di bogor akan kembali ke rumah ini. Pastilah rumah ini menjadi sangat amat sempit.
Lalu saya menjawab, saya menolak untuk ngekost dengan alasan jikalau saya kerja di Jakarta nanti, mungkin lebih baik saya tinggal di rumah ini dengan harapan, gaji saya nanti akan saya tabung untuk mencicil rumah. Setelah itu Ibu saya keluar kamar untuk kembali membereskan pakaian. Saya pun dipaksakan untuk berpikir tentang kemana saya sehabis wisuda. Sebenarnya itu juga menjadi pertimbangan saya untuk tidak cepat lulus, karena saya masih bingung mau kemana saya tinggal. Saya tidak mungkin tinggal bersama ayah, ibu, dan adik-adik saya yang hebat itu. Saya harus hijrah, entah kemana itu. Keinginan saya untuk belajar kembali ke jenjang berikutnya di luar negeri adalah impian terbesar saya.
Saya ingin menjadi seorang analis kebijakan agribisnis handal dan seorang wirausaha komoditas pertanian yang bermanfaat. Sudahlah itu semua mungkin hanya impian yang terlalu besar untuk orang sekecil saya. Kemana semangat saya ketika beberapa tahun dahulu merencanakan masa depan yang cemerlang? Entah kemana, karena jujur beberapa bulan kebelakang saya sudah mencoba mencicipi dunia kerja dan itu sangat sulit. Dan mungkin sekarang saya harus mulai mengeluarkan rencana B untuk masa depan yang mungkin sedikit berbeda arahnya dengan rencana awal saya. Semoga rencana B dapat berjalan dengan semestinya. Apa itu rencana B? Rencana yang saya sendiri masih tidak tahu apa itu. Kembali kepada realitas yang harus saya hadapi lainnya adalah membiayai adik-adik saya hingga sarjana. Cukup menantang, karena berarti saya harus mengumpulkan uang untuk adik-adik saya dan juga untuk keluarga kecil saya nanti. Hari demi hari berlalu, saya harus berkejar-kejaran dengan waktu. Saya harus segera mengambil kebijakan yang tegas, cepat, dan tepat karena untuk menekan risiko yang lebih buruk diterima untuk ke depannya atau dalam kata lain agar tidak membayar future cost yang lebih besar di kemudian hari akibat kesalahan dalam pengambilan kebijakan.
Masa depan saya nanti akan menjadi cerminan kelas sosial saya, kenapa? Jikalau saya sukses berarti kelas sosial saya naik, dari seorang anak yang kurang mampu menjadi orang yang mampu, atau malah menjadi lebih buruk. Masa depan saya juga menjadi pertaruhan cerminan sosial ayah dan ibu saya di depan keluarga mereka, menunjukkan kesuksesan anaknya di depan saudara-saudara adalah kebanggaan bagi ayah dan ibu saya. Jikalau besok saya membaca postingan ini mungkin saya akan tertawa dan berpikir untuk menghapusnya karena memang saya menulis ini dalam alam bawah sadar saya, begitu mengalir dan sulit ditangkap maknanya apa. Sekian [16 Maret;01.47]

Comments

« Previous entries